Book / Writing

Sastra Itu Cinta

Judul di atas merupakan tema workshop menulis tingkat nasional bersama Bunda Helvy Tiana Rosa dan Kang Abik (Habiburrahman El Shirazi) yang saya ikuti tanggal 17 November 2012 lalu di Universitas Indonesia, Depok.

Acara ini sebenarnya dimulai jam 8 pagi, tapi berhubung Cikarang itu berada di belahan bumi yang sangat jauh dari Depok maka sekitar jam 9 pagi saya baru sampai di lokasi. Saat saya masuk ke ruangan auditorium di lantai 6, ternyata Kang Abik sedang menyuntikkan semangat kepada peserta workshop dengan materinya yang berjudul Modal Menjadi Penulis Best Seller.

Hasil workshop sehari itu saya coba dirangkum di sini sekaligus sebagai pengingat saya untuk tidak patah semangat untuk terus menulis.

Menurut Kang Abik yang saat ini menjabat sebagai Ketua Liga Sastra Islam Dunia untuk wilayah Indonesia, dalam mencari ilmu itu ada enam hal yang harus kita punya. Apa saja?

  1. Kecerdasan
  2. Rakus akan ilmu
  3. Kesabaran
  4. Uang saku
  5. Petunjuk ilmu dari guru
  6. Perlu masa yang panjang

Lalu apa saja modal kita untuk menjadi penulis best seller?

Kang Abik memberi penjelasan yang cukup panjang mengenai hal ini.

1. Niat yang kuat

Menurut KBBI definisi menulis adalah membuat huruf/ angka, melahirkan pikiran/ perasaan dengan menulis, menggambar/ melukis atau membatik.

Niat untuk menulis itu bisa berupa apa saja seperti mencurahkan isi hati ketika sedih, mencurahkan kerinduan kepada orang yang dirindukan, menafkahi keluarga atau ingin keliling dunia. Kang Abik bercerita dulu niat awal dia menulis adalah karena butuh uang saat dirinya menjadi mahasiswa di Mesir. Saat dulu hendak menikah pun dirinya mengaku tidak mempunyai modal finansial yang memadai. Dirinya hanya mempunyai draft novel Ayat-Ayat Cinta yang kemudian menjadi best seller.

Jadi, modal pertama untuk menjadi penulis best seller adalah tetapkan dulu niat yang kuat (apapun itu). Duh, saya merasa tertampar nih oleh paparan Kang Abik.

2. Keberanian untuk menulis

Menjadi penulis itu memerlukan keberanian besar. Keberanian dan kekuatan tekad merekalah yang mengantarkan mereka meraih prestasi gemilang. Jleb banget deh rasanya ketika Kang Abik memaparkan kutipan dari Carmel Bird ini. Menurut Kang Abik dengan berani menulis kita harus berani pula menerima kritikan sebab dengan kritikan maka karakter tulisan kita akan terbangun dengan lebih baik.

3. Kekuatan jiwa atau idealisme yang diperjuangkan.

Karya-karya besar dan monumental biasanya lahir dari kekuatan jiwa penulisnya. Menurut Kang Abik sebagai penulis kita harus mempunyai idealisme yang jelas, jangan menjadi penulis me-too. Menurut Kang Abik, bagi penulis pemula, boleh saja meniru gaya penulisan penulis terkenal yang disukai. Seiring berjalannya waktu, biasanya karakter penulis akan terbentuk sendirinya.

4. Memiliki wawasan dan teknik menulis

Kang Abik mengatakan, dia tidak menulis poin harus memiliki wawasan dan teknik menulis di nomor urut satu sebagai modal menjadi penulis best seller karena hal ini bisa dipelajari sambil jalan. Artinya tulislah apa saja yang kita ingin tulis. Kalau kata JK Rowling, menulislah apa saja yang kamu tahu, menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. William Forrester mengatakan menulislah pada saat awal dengan hati setelah itu perbaiki tulisan anda dengan pikiran.

Di akhir sesinya, Kang Abik memberi tips-tips agar semangat menulis terutama karya fiksi tetap menyala, yaitu :

  1. Buatlah peta/ outline/ kerangka tulisan
  2. Awal menulis boleh meniru gaya penulis tertentu, lama kelamaan kita akan menemukan gaya penulisna sendiri.
  3. Menumbuhkan semangat menulis bisa dengan cara bergabung dengan komunitas penulis yang saat ini mulai ramai bertebaran di Indonesia.
  4. Riset bisa dilakukan langsung ke lokasi, bertanya kepada kenalan yang memang tinggal di lokasi tersebut atau cara paling mudah adalah dengan browsing di internet.

Beberapa pertanyaan dari peserta yang sempat saya catat antara lain :

Q : Bagaimana agar mendapat feedback dari pembaca?

A : Seorang penulis harus menulis sebaik-baiknya. Pertahankan kualitas menulis dan harus pintar-pintar memposisikan diri (mencara warna baru dalam tema penulisan).

Q : Apa bedanya novel dan skenario?

A : Dalam penulisan novel imajinasi penulis bisa lebih luas, sedangkan penulisan skenario kita harus sambil membayangkan adegannya jika sudah tayang di televisi.

Q : Bagaimana jika tulisan kita ditolak suatu media?

A : Tulisan itu ditolak bukan berarti tulisan kita jelek, tapi mungkin saja gaya penulisan kita yang berbeda dengan media tempat kita mengirim tulisan. Kita bisa mencoba mengirimkan ke media lain yang mungkin saja sesuai dengan gaya penulisan kita. Contohnya draft novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik pernah ditolak oleh suatu penerbit padahal cerita tersebut sudah pernah dimuat sebagai cerita bersambung di surat kabar Republika.

Sesi kedua kemudian diisi oleh Bunda Helvy.

Tema materi pertama Bunda Helvy adalah tentang Sastra Mengubah Dunia. Mengutip kata-kata dari Umar bin Khatab, Bunda Helvy mengatakan bahwa ajarkanlah sastra pada anak-anak kalian, sastra mengubah seorang pengecut menjadi pemberani. Bunda Helvy mengambil contoh beberapa buku yang dianggap berpengaruh terhadap situasi dunia pada masanya.

1. Novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe tahun 1852. Novel inilah yang mencetuskan perang sipil di Amerika Serikat sekaligus mengakhiri sistem perbudakan orang kulit hitam di sana.

Uncle Tom's Cabin, CLEVELAND, OHIO: JEWETT, PROCTOR & WORTHINGTON edition

Sumber : Wikipedia

2. Novel Oliver Twist (1838) karya Charles Dickens yang dianggap berpengaruh karena mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang untuk memperbaiki kondisi kaum buruh, terutama buruh anak-anak.

Olivertwist front.jpg

Sumber : Wikipedia

3. Novel Totto-Chan (Gadis Cilik di Jendela) karya Tetsuko Kuroyanagi. Novel ini menginspirasi banyak pendidik untuk membuat dunia pendidikan menjadi lebih baik. Selain pendidik, novel ini juga patut dibaca oleh para orangtua, karena pesan yang disampaikan sangat membuka pikiran kita.  Novel ini menginspirasi kita bahwa jangan terpaku pada sosok ideal seorang anak dengan memberi label negatif kepada seorang anak yang menurut kita tidak masuk kriteria ideal.

Totto-chan.png

Sumber : Wikipedia

Bunda Helvy juga memberikan beberapa kutipan yang masih terkait dengan sastra.

Jika politik bengkok, maka puisi akan meluruskannya (F. Kennedy)

Do not go gentle into that good night (Dylon Thomas)

Kalau anda ingin membaca sebuah buku yang tak anda temukan di toko buku manapun, maka itulah saatnya anda harus menuliskannya (Toni Morrison)

Selain 3 buku di atas ada beberapa buku lain yang menurut Bunda Helvy dapat memperkaya jiwa, antara lain :

1. Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (Seno Gumira Ajidarma)

2. Pangeran Bahagia (Oscar Wilde)

3. Wartawan Jihad (Mochtar Lubis)

4. Gadis Korek Api (H.C. Andersen)

5. Javid Namah : Kitab Keabadian (M. Iqbal)

Saya sempat mencatat juga kutipan dari Motinggo Busye dan Pramoedya Ananta Toer yang tayang di slide pada saat Bunda Helvy menyampaikan materi workshop.

to read is to empower–to empower is to write–to write is to influence–to influence is to change–to change is to live (Motinggo Busye)

Kalian boleh maju dalam pelajaran termasuk mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian hanya hewan yang pandai (Pramoedya Ananta Toer-Bumi Manusia)

Materi kedua yang disampaikan oleh Bunda Helvy yaitu tentang Proses Kreatif. Lagi-lagi Bunda Helvy menyuguhkan kutipan-kutipan tentang menulis.

Hidup adalah kumpulan kisah dan kamu bisa membuatnya abadi dengan menulis (Ibu Maria, Ibu dari Bunda Helvy)

Menulis adalah berjuang (Putu Wijaya)

Berterimakasihlah kepada orang yang membuat anda patah hati jika dari situ anda bisa menulis (Helvy Tiana Rosa)

Buku-buku Bunda Helvy yang menurutnya memerlukan proses kreatif cukup panjang yaitu :

1. Hingga Batu Bicara

2. Bukavu

Teknik Menulis merupakan materi ketiga dari Bunda Helvy. Menurut beliau, ada beberapa kelemahan umum dalam penulisan cerita antara lain :

1. Ide/ gagasan—Tidak ada sesuatu yang berbeda dalam ide atau gagasan yang akan dibuat, masih bercerita tentang hal-hal yang sama dan klise, tidak ada unsur pembaharuan atau penyegaran yang akan membuat cerita itu menarik dan berbeda. Tiga hal tersebut adalah beberapa kelemahan dalam penyampaian ide cerita yang sering dilakukan penulis pemula. Oya, Bunda Helvy juga berpesan ide itu mahal, kalau kita punya ide jangan diumbar-umbar ke orang lain kalau nggak mau kecolongan (ini sih curcolannya Bunda :D)

2. Struktur cerita—Kurang memperhatikan proporsionalitas struktur cerita (pembukaan/ pengenalan, konflik, klimaks, antiklimaks dan ending). Masih banyak yang berpanjang-panjang dalam menulis pembukaan seolah takut para pembaca tidak mengerti apa yang akan diceritakan. Seharusnya justru konflik yang dibahas dengan lebih jelas. Tips dari Bunda Helvy, kalau membuat cerpen, cerita rinci harus dikurangi dan alurnya padat, sedangkan novel membutuhkan degresi (lanturan).

3. Fokus cerita—Kurang memperhatikan fokus cerita alias tidak tajam.

4. Bahasa—Masih menggunakan kata-kata klise, tidak selektif dalam diksi, kebingungan dalam penempatan bahasa pop, slang atau dialek dalam cerpen, kurang kesadaran untuk memakai bahasa yang padat, jernih dan spontan. Untuk penggunaan bahasa pop, slang dan dialek, gunakanlan di dalam dialog, jangan di dalam narasi. Bunda Helvy memberi contoh kalimat-kalimat dari Seno Gumira Ajidarma yang penggunaan diksinya sangat bagus. Contoh “Malam pun membentangkan jubahnya menutup kota”.

5. Judul—Tidak menarik, terlalu biasa. Biasakan membuat judul yang baik dan menarik. Tidak masalah apakah kita mau menentukan judul dulu atau membuat cerita dulu. Bebas saja. Contoh judul yang menarik “Sepotong senja untuk pacarku” dan “Rembulan dalam cappucino”. Keduanya merupakan karya Seno Gumira Ajidarma.

6. Kalimat pembuka—Kalau dalam cerpen, kalimat pembuka itu harus keren kata Bunda Helvy. Contohnya dalam cerpen Bom karya Putu Wijaya. “Oki terbangun di pagi hari dan menemukan sebuah bom di dekat tempat tidurnya”. Kalimat pertama dalam cerita sangat menentukan keberhasilan cerita secara keseluruhan. Untuk membuat kalimat pembuka bisa dengan memakai situasi action seperti “Lari…Fatimah lari…” atau memakai kalimat tanya “Apakah hidup itu?”.

7. Penutup—Kalimat terakhir juga sangat menentukan cerita. Cerita yang memiliki ending terbuka seringkali lebih menarik daripada cerita dengan penyelesaian tuntas. Kalau tokoh di dalam cerita kita tidak penting untuk dimatikan maka jangan dimatikan. Bisa diolah untuk memunculkan efek dramatis. Untuk karya sastra dengan ending terbuka, biasanya kesimpulan diserahkan ke tautan pikiran pembaca masing-masing. Sedangkan untuk cerita anak, biasanya penutup merupakan ending tertutup dengan cerita yang berakhir indah (happy ending). Conton karya sastra dengan ending terbuka adalah novel belenggu karya Armin Pane.

8. Menggurui—Jangan sampai dalam menyampaikan pesan kita terkesan menggurui pembaca.

Jadilah penulis yang baik kata Bunda Helvy. Bagaimana menjadi penulis yang baik itu?

1. Jangan pernah bosan membaca karya penulis pengarang ternama. Bukan dengan maksud untuk meniru melainkan sebagai perbandingan dan menambah wawasan. Sering membaca karya pengarang ternama secara tidak langsung kita akan menyerap teknik penceritaan penulis tersebut. Teknik penceritaan ditentukan oleh wawasan, teori sastra dan jam terbang.

2.. Teruslah menulis. Seperti kata Kuntowijoyo, bagi penulis langkah pertama adalah menulis, langkah kedua adalah menulis langkah ketiga adalah menulis. Jadi intinya kalau nggak nulis ya nggak akan jadi apa-apa. Hampir di dalam setiap profesi semakin sering kita berlatih dan jam terbang semakin tinggi maka kita akan menjadi lebih baik. Jleb! Dan saya pun merasa tersindir😀

Di sela-sela coffee break, di slide ditayangkan kutipan-kutipan dari Bunda Helvy yang masih terkait dengan kepenulisan. Ada beberapa yang sempat saya catat.

Buku yang baik adalah buku yang bisa membuatmu bergerak

Tulisan adalah rekam jejak yang tak akan pernah bisa terhapus

Karya sastra sama dengan parfum para sastrawan

Menulislah maka kau akan kaya

Menulis itu memahat peradaban

Menulis itu ibadah

Menulis itu jihad

You are what you write

Menulis adalah menenangkan pikiran dan nurani yang nyeri

Menulis memiliki rimba dan laut kata-kata dalam dirinya

Cinta sama dengan sastra, membutuhkan apresiasi, ekspresi dan kreasi

Mengapa saya menulis? Mungkin karena saya ingin mendekapmu erat lewat kata-kata

Sebab sastra yang merenggutku dari pasrah

Saya menulis untuk mencerahkan diri saya dan orang lain

Menulis adalah kegiatan menanamkan berlian di hati pembaca

Seringkali sebagai penulis pemula masih bingung dalam menulis cerita. Mau bercerita apa? Kitalah yang memutuskan ingin bercerita apa. Apakah mengenai pemecah masalah kehidupan, komedi, horos/ aneh atau cerita cinta?

Nggak punya ide? Kata Bunda Helvy, ide itu harus diupayakan, jangan menunggu jatuh dari langit. Jangan putus asa dan menggerutu, tidak akan menolongmu sama sekali.

Menurut Muchtar Lubis tiga kunci untuk sukses menulis adalah tekad, wawasan dan latihan. Ketiganya memiliki porsi 99%, sedangkan bakat ternyata hanya memiliki porsi 1%.

Menjelang acara usai, Bunda Helvy menayangkan slide-slide yang masih berisi motivasi untuk tetap semangat menulis😀

Because you can

Sometimes all you need is a bright idea

Have confidence in yourself

Berusaha keras untuk sebuah lompatan besar

Think big ideas

Bagaimana kita melakukannya?

1. Menjadi pengamat–Kita butuh tokoh-tokoh khusus untuk dimasukkan ke cerita kita.

2. Structure (kerangka cerita)

3. Focus pada who, what, when, where, why dan how.

4. Think of it logically (karya sastra mempunya logikanya sendiri)

5. Buat kata-katamu hidup

6. Biarkan kata-kata kita bicara. Kata-kata yang memeluk

7. Jangan lupa, menulislah dari hati untuk sampai ke hati-hati yang lain. Sebab itu akan menjadi nyawa pertama pada cerita anda

8. Buat ceritamu seperti roller coaster. Mendebarkan, menakjubkan, seru, tepat sasaran, bahagia, marah, sedih, tertawa setelah pembaca buku kita.

Sebagai penutup, Bunda Helvy membacakan sebuah puisi dari buku kumpulan puisi Mata Ketiga Cinta, yang beliau persembahkan untuk temannya, seorang wanita Aceh yang turut menjadi korban keganasan tsunami Aceh tahun 2004 yang lalu.

Sebelum acara benar-benar bubar, saya nggak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama Bunda Helvy. Cheers😀

Terima kasih untuk @sahabathelvy dan Bunda Helvy yang sudah berkenan mengadakan acara workshop menulis ini. Semoga acara-acara serupa makin sering diadakan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s