Family / Wanderlust

Eka Purnama Cottages, Amed, Bali Timur

Tiket penerbangan Jakarta-Bali sudah di tangan sejak satu tahun yang lalu, namun dua minggu menjelang keberangkatan saya dan adik perempuan saya masih saja berkutat dengan urusan klasik yaitu di Bali mau kemana saja dan menginap dimana.

Akhirnya ditetapkan hari pertama dari Bandara Ngurah Rai kami langsung menuju Amed. Sebuah daerah di Bali Timur yang terkenal dengan spot snorkeling dan diving-nya yang menawan. Pertanyaan berikutnya adalah di Amed mau menginap dimana?

Setelah browsing sana-sini dan membaca review-review, kami (baca : saya, karena adik saya lebih banyak nerimo dengan itenerary yang saya buat) memutuskan untuk menginap di Eka Purnama Cottages dengan pertimbangan, tepat di perairan di depan penginapan tersebut terdapat bangkai kapal Jepang (Japan shipwreck). Dari segi harga pun masih terjangkau oleh kami. Dua hari menjelang keberangkatan, saya menghubungi pihak Eka Purnama untuk mengkonfirmasi bahwa kami jadi menginap di sana. Saya dan adik saya tiba di Bali sekitar jam dua siang waktu lokal. Setelah menjemput Kak Luli, kakak sepupu saya di daerah Nusa Dua, kami bergegas menuju Amed.

Saya tidak menyangka letak Eka Purnama Cottages sangat jauh dari pertigaan Desa Culik. Sempat putus asa ketika mencari lokasi penginapan ini dan sudah berniat untuk mencari penginapan lain saja. Menurut Pak Made, supir mobil yang kami sewa sih sekitar 13 kilometer. Kontur jalanan naik turun, dengan lebar jalan yang tidak terlalu besar ditambah kondisi yang sudah malam membuat Pak Made sangat berhati-hati sekali ketika membawa mobil. Kami agak terhibur ketika melihat sebuah papan nama kecil bertanda panah dengan tulisan Eka Purnama Cottages. Kami berasumsi letaknya sudah dekat. Ternyata kami salah. Kami masih harus melalui beberapa tanjakan sebelum akhirnya Pak Made setengah beteriak mengatakan, “Itu Eka Purnama”.

“Alhamdulillaaaaah,” satu kata yang terucap serempak ketika kami sudah yakin kalau kami sudah tiba di Eka Purnama. Pak Made pun ikut-ikutan berucap kalimat tahmid tersebut. Duduk berjam-jam di mobil membuat kaki, pinggang, punggung, leher dan bahu sudah tidak karuan lagi rasanya.

Namun tantangan ternyata belum selesai. Eka Purnama posisinya berada di kontur yang berbukit, sehingga kami harus menaiki beberapa anak tangga yang tebruat dari batu untuk mencapai lobby yang sekaligus area makan. Selain itu untuk menuju kamar, kami masih harus menaiki beberapa anak tangga lagi.

Malam itu kami disambut langsung oleh Ibu Ni Luh, seorang wanita asli Desa Culik yang bersuamikan George, lelaki berwarganegaraan Amerika Serikat, pemilik Eka Purnama Cottages. Ketika kami tiba, saya mendapati ada sepasang turis asing yang sedang makan malam. Saya dan adik saya yang berjilbab sempat mendapat pandangan aneh dari orang-orang yang berada di lobby saat itu.

Sampai-sampai Ibu Ni Luh bertanya, “Tahu darimana tentang Eka Purnama? Biasanya jarang orang Indonesia yang tahu tempat ini”.

“Saya tahu dari internet, Bu. Saya pilih di sini karena katanya dekat kalau mau melihat bangkai kapal Jepang”, jawab saya.

“Oiya, dekat, di depan sana, besok tinggal turun saja”, ujar Ibu Ni Luh dengan logat Bali-nya yang kental.

Di antar dua orang pekerjanya, kami menuju kamar yang sudah kami pesan sebelumnya. Ketika melihat kondisi kamarnya, saya baru teringat bahwa saya lupa menanyakan apakah kamarnya berpendingin udara atau tidak. Faktanya, kamar yang kami tempati tidak berpendingin udara. Bangunan cottages berupa rumah panggung dan dindingnya terbuat dari bambu. Di dalam kamar tersedia satu tempat tidur besar berkelambu. Selain itu sudah disediakan sebuah kasur tambahan di lantai, karena sebelumnya saya sudah menginformasikan bahwa kami akan datang bertiga. Ternyata walaupun tanpa pendingin udara, udara di malam hari tidak panas, sehingga tidur pun bisa nyenyak.

Image

Rencananya Pak Made akan kembali lagi ke Kuta, kemudian keesokan harinya menjemput kami lagi. Namun ketika sampai di Eka Purnama sudah jam 10 malam, Pak Made pun terlihat sangat kecapekan. Saya pun bertanya kepada Ibu Ni Luh apakah ada kamar yang disewakan untuk supir. Ibu Ni Luh pun berbaik hati menyediakan kamar kosong untuk Pak Made. It’s for free.

Setelah mandi dan beres-beres kami kembali ke lobby. Awalnya ingin makan malam, tapi setelah melihat menu yang tersedia, mendadak keinginan makan sirna. Apa pasal? Kami melihat deretan menu seperti ketchup pork dan satay pork. Akhirnya kami hanya memesan minuman hangat.

Setelah menghabiskan minuman dan mengobrol sebentar dengan Ibu Ni Luh, kami kembali ke kamar kemudian langsung menyerbu lontong isi, teri balado dan telur pindang yang merupakan bekal yang dibawa dari Depok yang disiapkan oleh uwak saya.

Saya sempat berkomentar, “Duh, untung nurut ya disuruh bawa bekal, lumayan ganjel sampai besok pagi”.

Pagi-pagi niat berburu matahari terbit terkalahkan oleh rasa kantuk dan letih akibat perjalanan panjang tadi malam. Kami pun baru bersiap-siap untuk sarapan kemudian snorkeling sekitar jam sembilan pagi. Di Eka Purnama Cottages, sarapan sudah termasuk fasilitas sehingga kita tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli sarapan. Kita bisa memilih satu dari beberapa menu sarapan di sini yaitu vegetables fried rice, pancake, scrambeled egg atau toast (daftar menu di sana menggunakan bahasa Inggris semua hehehe…). Untuk minuman kita bisa pilih teh atau kopi. Selain itu kita masih mendapat tambahan buah seperti semangka, papaya dan nanas sebagai pencuci mulut.

Image

Image

Angin di area penginapan pagi sampai siang menjelang kami kembali ke Kuta sangat kencang, bahkan kita sampai bisa mendengar suaranya yang menderu-deru. Pemandangan pagi hari yang bisa kita nikmati adalah kapal-kapal nelayan tradisional yang baru kembali dari melaut. Bentangan layar yang berwarna-warni berpadu kontras dengan permukaan laut biru yang berkilat-kilat diterpa sang mentari.

Image

Image

Secara keseluruhan kami puas menginap di Eka Purnama Cottages. Pemilik dan karyawan-karyawannya sangat ramah. Kamarnya nyaman dan kamar mandinya cukup luas. Namun ada beberapa hal yang mungkin perlu diperbaiki. Sistem flushing di closet di kamar yang kami tempati tidak berfungsi, sehingga jika sesudah buang air harus disiram manual menggunakan air yang ditampung di ember. Selain itu shower yang tersedia hanya air dingin,tidak tersedia air panas. Pintu kamar mandi di kamar yang kami tempati tidak bisa dikunci, sehingga harus diselipkan keset di bagian bawahnya agar bisa tertutup.

Image

Facts about Amed :

1. Di daerah Amed sinyal telepon yang ada hanya provider Ceria. Provider-provider lain sinyalnya gundul tak bersisa.

2. Tidak ada minimarket seperti Indomaret atau Alfamart. Sebaiknya membawa perbekalan seperti air minum dan makanan sejak dari kota. Harga makanan dan minuman di daerah ini cukup mahal. Satu botol air mineral ukuran satu liter dikenai harga Rp. 9.000,-.

Facts about Eka Purnama Cottages :

1. Sebaiknya melakukan booking terlebih dahulu. Booking bisa melalui website-nya. Nanti akan dibalas langsung oleh George, sang pemilik.

2. Nomor kontak : 08283722642

3. Tarif menginap

    Low season (10 Jan-10 Juni & 10 Sep-10 Des)
1 orang Rp. 200.000,-
2-3 orang Rp. 250.000-

    High season (11 Des- 9 Jan & 11 Juni- 9 Sep)
1 orang Rp. 250.000,-
2-3 orang Rp. 300,000,-
Orang keempat yang ikut menginap (anak kecil), dikenai biaya Rp. 25.000,-

Image

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s