Eat / Family

Bebek Bengil Nan Bengis

Saya penyuka bebek goreng. Di sekitar tempat saya tinggal di Cikarang, setidaknya ada beberapa tempat yang menjual bebek goreng seperti Bebek Goreng Pak Slamet, Bebek Goreng Pak Ndut, Bebek Goreng Ginyo, tukang bebek goreng kaki lima di pinggir jalan dan Bebek Goreng Salsabila yang sudah pernah saya coba.

Ketika saya dan Okke, adik perempuan saya ke Bali awal Oktober yang lalu, saya memasukkan agenda mampir ke Bebek Bengil di dalam itenerary perjalanan kami. Saya penasaran mencicip bebek goreng yang tersohor itu. Di hari ketiga kami di Bali, akhirnya kesampaian juga makan siang di Bebek Bengil setelah di pagi harinya kami mengunjungi Situs Gunung Kawi dan Pura Tirta Emphul.

Lokasi Bebek Bengil berada di Jalan Hanoman, Padang Tegal, Ubud, tidak jauh dari lokasi wisata Monkey Forest. Dari luar tempat ini terlihat sempit. Untuk memarkir mobil saja harus di area parkir pertokoan yang berada di sebelah restoran yang sudah ada sejak tahun 1990 ini. Namun ketika kita sudah berada di dalam ternyata ruangannya cukup luas. Ruang makan untuk pelanggan tak hanya di bagian depan. Jika kita terus berjalan ke arah belakang, kita akan mendapati beberapa saung untuk tempat makan lesehan dengan latar belakang hamparan sawah menghijau. Saat itu suasana di Bebek Bengil cukup ramai. Saya yang datang bertiga dengan Okke dan Kak Luli, kakak sepupu saya kebagian kursi di area belakang.

Menurut sejarahnya, rumah makan ini diberi nama Bebek Bengil karena di saat pemiliknya sedang kebingungan memberi nama, lewatlah dihadapannya beberapa ekor bebek dengan kakinya yang kotor sehingga membuat jejak di lantai. Akhirnya Bebek Bengil diambil menjadi nama rumah makan ini (Bengil dalam bahasa Bali artinya kotor).

Saya memesan menu andalan di sana yaitu Bebek Bengil. Kaget juga melihat harganya yang sangat mahal menurut saya. Seporsi bebek goreng yang dilengkapi dengan sambal matang, sambal mentah dan sayur seperti urap (berisi tauge dan kacang panjang) pada daftar menu dilabeli harga 87.000 rupiah. Tapi saya masih berpikir positif, karena melihat tulisan di buku menu bahwa dengan harga segitu akan mendapatkan setengah badan bebek. Adik saya memesan cumi goreng bumbu Bali dan gado-gado sedangkan kakak sepupu saya memesan tom yam. Pelayannya hebat lho, nggak pake nulis di catatan, dia ingat pesanan kami apa saja saat kami menyampaikan secara lisan.

Oiya, selain kaget yang pertama karena melihat harga si bebek, kaget yang kedua adalah ternyata mereka menyediakan menu pork. Halah, sudah kepalang duduk, masa mau keluar nggak jadi makan di situ. Akhirnya hanya bisa pasrah dan berharap minyak untuk menggoreng si bebek nggak sama dengan minyak untuk mengolah si babi T_T

Cukup lama juga menunggu pesanan datang, mungkin karena pengunjung hari itu cukup banyak. Komentar pertama saya ketika menu bebek goreng Bengil pesanan saya datang adalah “Kok setengah badan bebeknya kecil yak”. Kak Luli menimpali, “Lagi diet kali bebeknya”. Hahahaha….. Penyajian Bebek Bengil adalah seporsi nasi, setengah ekor bebek beserta pelengkap dua macam sambal, urap kacang panjang-tauge, dua iris jeruk dan sepotong semangka. Berhubung saya lagi pantang makan sambal gara-gara sakit GERD, si sambal dan urap malah nggak kefoto😀

Bebek Bengil+nasi

Menurut saya nih, there’s nothing special about menu Bebek Bengil. Untuk harga satu porsi Bebek Bengil yang 87.000 rupiah itu, ukuran bebeknya walaupun setengah ekor bebek tapi it’s too little for me, not worth it dengan harganya yang cukup mahal. Belum lagi tambahan service 5% dan pajak 10%. Bagaimana dengan rasa? Tidak jauh berbeda dengan bebek goreng yang biasa saya beli di Cikarang dengan harga seperempatnya. Kakak sepupu saya ikut berkomentar mengenai tom yam pesanannya. Menurut dia udangnya nggak fresh dan harganya seporsinya 57.000 rupiah nggak sebanding dengan rasanya. Masih lebih enak tom yam yang biasa dia makan di Secret Recipe, Jakarta. Lagian kata dia, kok aneh ya di sini makan tom yam dikasih roti😀

Tom Yam ala Bebek Bengil

Meskipun demikian, saya cukup terhibur dengan gado-gadonya yang enak (sebenarnya saya masih pantang makan kacang karena penyakit GERD saya, tapi apa boleh buat saya colek juga itu gado-gado hehehe…) serta suasana persawahan yang melatar belakangi lokasi rumah makan ini. Lumayan ada spot untuk foto-foto.

Gado-gado (belum disiram bumbu kacang)

Cumi Goreng Bumbu Bali (porsinya imut banget yak ;))

Jadi nih kesimpulannya, buat yang sekedar penasaran kayak saya, bolehlah icip-icip di rumah makan yang ternyata ada cabangnya juga di Jakarta. Tapi buat saya, cukup satu kali lah berkunjung ke sini. Harganya yang bengis cukup menguras dompet traveler kere seperti saya. Kenapa saya bilang bengis? Karena “hanya” memesan satu es teh manis, dua teh tawar hangat, satu porsi nasi bebek Bengil, satu porsi cumi goreng bumbu Bali, satu porsi gado-gado, satu porsi tom yam dan tiga nasi putih, kami “digetok” 345.345 rupiah (cantik ya angkanya), itu sudah termasuk service 5% dan pajak 10%. Sudah begitu pelayannya menurut saya kurang ramah kepada kami, yang saya perhatikan, kepada pengunjung lain mereka begitu ramah, sampai menarikkan kursi buat pengunjung-pengunjung itu. Hmmm…apakah karena pengunjung itu turis asing sementara kami “hanya” turis lokal dan berjilbab pula. Entahlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s